Ketika pemain Bali United Stefano Lilipaly mencetak gol ke gawang PSM Makassar di saat waktu injuri time menit ke-95 dan satu menit kemudian wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir dan membawa Bali United memenangi laga yang begitu menegangkan dengan angka tipis 1 - 0 atas tuan rumah PSM Makassar (instagram.com/ligasuperindonesia, 06/11/2017).
Seketika itu pula penjaga gawang PSM Makassar Rivky Deython Mokodompit terduduk lemas menyender di tiang gawang seolah tak percaya tim Juku Eja harus menyerah secara dramatis di menit injuri time padahal sepanjang laga selama 95 menit begitu mendominasi pertandingan.
Sementara itu, ratusan suporter PSM Makassar masuk ke dalam area pertandingan ikut meluapkan kesedihan atas kegagalan tim kesayangannya menjadi Juara Liga 1 tahun 2017.
Juru foto Fajar Jawa Pos Group Muhammad Idham Ama mengabadikan moment menarik ketika dua suporter belia dari PSM Makassar menghampiri Rivky Mokodompit yang masih menyender di tiang gawang kemudian memeluk Rivky Mokodompit seraya menangis tersedu sedu. Rivky Mokodompit memeluk keduanya dengan tatapan hampa. Nampak penyesalan luar biasa dari penjaga gawang PSM Makassar tersebut karena gawangnya harus kebobolan di menit akhir injuri time. Benar benar dramatis (instagram.com/jawapos, 06/11/2017).
Sayapun ikut merasakan kesedihan yang mendalam dari dua suporter belia tersebut. Bagi keduanya, PSM Makassar adalah tim terbaik dan menjadi kebanggaannya saat ini dan boleh jadi hingga mereka berdua berusia senja. Ada yang bilang suporter adalah pemain ke-12 bagi sebuah tim. Begitulah adanya. Bagi seorang suporter fanatik, kemenangan tim kebanggaannya adalah kebahagiaan yang luar biasa dan sebaliknya, kegagalan atau kekalahan tim kebanggaannya adalah kesedihan yang luar biasa.
Sepak bola memang butuh suporter. Tanpa kehadiran suporter, sebuah tim sepak bola betapapun punya prestasi bagus tetaplah belum lengkap. Ingatlah ketika Persib Bandung Juara, PSM Makassar Juara, Persija Jakarta Juara, Persebaya Surabaya Juara, PSMS Medan Juara. Betapa ribuan bahkan puluhan ribu suporternya ikut merasakan indahnya kemenangan. Seolah olah merekapun juga mengangkat Piala Juara. Ingatlah ketika salah satu tim di atas di akhir laga melakukan victory lap dengan membawa bendera tim mengelilingi lapangan dan dielu elukan oleh ribuan bahkan puluhan ribu suporter pendukungnya. Dunia seolah olah milik tim Juara dan para suporternya !
Namun demikian, fanatisme yang ditunjukkan oleh suporter sepak bola jangan sekali kali dilampiaskan dengan cara cara yang tidak simpatik terutama kepada tim lawannya. Melakukan kerusuhan sebagai ungkapan kesedihan dan kekecewaan atas kegagalan tim kebanggaannya bukanlah ciri dari suporter sepak bola yang baik. Oleh karena itu, bersikap fair play juga harus ditunjukkan oleh para suporter sepak bola, baik yang menyaksikan langsung di lapangan hijau maupun yang berkomentar di media sosial. Junjung tinggi sikap saling menghormati dan saling berempati. Jauhilah emosi dan rasa benci yang sangat berlebihan yang bisa jadi berdampak pada diri sendiri seperti terkena stroke dan serangan jantung.
Tahun depan, kompetisi Liga 1 Indonesia akan digelar lagi. Buat suporter PSM Makassar saatnya nanti kembali menunjukkan dukungan untuk tim Juku Eja agar bisa meraih Juara !
Sumber : Uc News

